Bijih Nikel
Harga bijih nikel Indonesia sedikit menurun minggu ini. Dalam hal harga patokan, patokan domestik bijih nikel Indonesia untuk paruh pertama Januari adalah USD 14.630 per ton metrik kering, meningkat 0,21% dari periode sebelumnya. Untuk premi, menurut data SMM tentang premi bijih nikel laterit domestik Indonesia, kadar 1,4% rata-rata USD 22, kadar 1,5% rata-rata USD 25,5, dan kadar 1,6% rata-rata USD 26. Harga kirim untuk bijih laterit berkadar 1,6% Ni di Indonesia adalah USD 50,9–52,9 per ton metrik basah, tidak berubah dari minggu lalu. Untuk bijih hidrometalurgi, harga kirim untuk kadar 1,3% Ni tetap stabil di USD 23–24 per ton metrik basah, turun satu dolar dibandingkan minggu lalu.
- Bijih Pirometalurgi:
Dari perspektif pasokan, pusat produksi utama masih berada di puncak musim hujan. Curah hujan tinggi telah mengganggu operasi penambangan. Antara tanggal 5 dan 11 Januari, Halmahera mengalami curah hujan paling parah, dengan akumulasi mencapai 70-110mm dan badai petir yang sering. Curah hujan di Sulawesi (Konawe dan Morowali) relatif sedang, terutama badai petir sore hari, dengan total mingguan masing-masing sekitar 40-65mm dan 35-55mm. Sebagian besar tambang saat ini menghadapi kendala pengiriman karena keterlambatan verifikasi dalam sistem MOMS (Sistem Pemantauan Online Mineral dan Batubara). Pada saat yang sama, audit yang sedang berlangsung oleh Satgas Kehutanan, dikombinasikan dengan keterlambatan MOMS, telah menciptakan tekanan "ganda regulasi". Akibatnya, para penambang mengadopsi sikap "tunggu dan lihat", menunjukkan keengganan untuk menjual dan mempertahankan jadwal pengiriman yang konservatif. Dari sisi permintaan, permintaan pengadaan dari smelter NPI relatif lemah minggu ini. Dengan pengisian ulang stok awal selesai, kecepatan pengiriman telah melambat secara signifikan.
- Bijih Hidrometalurgi
Pasar untuk limonit tetap stabil dengan pasokan yang dapat diperdagangkan yang memadai. Namun, beberapa smelter telah mengurangi produksi MHP, yang menyebabkan penurunan permintaan bijih.
Lonjakan baru-baru ini dalam harga nikel LME diperkirakan akan mendorong peningkatan signifikan dalam siklus HPM berikutnya, yang seharusnya memberikan dasar yang kuat untuk premi bijih.
Fokus pasar masih tertuju pada Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM). Dalam konferensi pers pada sore hari tanggal 8 Januari, Menteri Bahlil Lahadalia tidak mengungkapkan angka pasti persetujuan RKAB (Rencana Kerja dan Anggaran Biaya) 2026. Beliau menyatakan bahwa kuota masih dalam perhitungan dan akan disesuaikan dengan total permintaan dari perusahaan peleburan pada tahun 2026. Sampai detail RKAB final, pelaku tambang diperkirakan akan tetap berhati-hati, mempertahankan lingkungan harga yang saat ini "stabil hingga menguat".
Nickel Pig Iron
"Celah Arbitrase Terbuka, Mendorong Transaksi Pasar; Potensi Kenaikan Harga NPI Bermutu Tinggi Masih Ada"
Harga rata-rata Nikel Pig Iron (NPI) 10-12% SMM rata-rata naik RMB 31,23 per unit nikel secara mingguan menjadi RMB 946,4 per unit nikel (ex-works, termasuk pajak), sementara indeks NPI Indonesia FOB turun USD 4,26 per unit nikel menjadi USD 118,92 per unit nikel.
Minggu ini, harga berjangka terkoreksi setelah awalnya melonjak. Selisih harga antara berjangka mingguan dan harga spot NPI bermutu tinggi melebar signifikan ke level yang relatif tinggi, memicu posisi arbitrase di dalam pasar. Dari sisi pasokan, sentimen bullish mendominasi di hulu. Perusahaan peleburan secara agresif menahan harga, menyebabkan penawaran pasar terus merangkak naik. Lebih lanjut, beberapa pabrik besi di Indonesia masih berhenti operasi tanpa pemulihan segera yang terlihat, menyebabkan penurunan pasokan pasar secara keseluruhan. Di sisi permintaan, meskipun sektor hilir masih berada dalam musim sepi tradisional dengan permintaan ujung yang terbatas, reli berjangka telah meningkatkan margin keuntungan bagi perusahaan baja tahan karat, mendorong niat penawaran ikut naik. Kesimpulannya, meskipun lingkungan pasokan dan permintaan "lemah ganda", perilaku arbitrase oleh pedagang tertentu telah mengunci volume NPI yang signifikan. Akibatnya, pasokan pasar yang beredar diperkirakan akan tetap ketat dalam jangka pendek. Harga NPI bermutu tinggi kemungkinan akan tetap mendapat dukungan dari faktor makro dan fundamental dalam jangka pendek, dengan ruang untuk bergerak lebih tinggi masih ada.




