Pada awal 2026, kebijakan perdagangan AS sekali lagi menjadi variabel kunci yang mempengaruhi pasar tembaga global. Pada Rabu, mantan Presiden AS Donald Trump menyatakan secara publik bahwa ia saat ini tidak berencana memberlakukan tarif pada logam tanah jarang, litium, dan mineral kritis lainnya — termasuk tembaga, yang telah masuk daftar mineral kritis sejak 2023. Pernyataan ini dengan cepat memicu penilaian ulang terhadap dinamika impor tembaga AS, menyebabkan penyempitan spread arbitrase LME-COMEX.
Penundaan tarif tembaga, ditambah dengan tingkat inventaris domestik AS yang tinggi, kini memberikan tekanan pada harga tembaga. Menurut perkiraan pasar, AS mengonsumsi sekitar 1,6 juta metrik ton (Mt) tembaga olahan per tahun, sementara produksi domestik sekitar 900 kt. Ekspor tetap sekitar 150 kt per tahun, menciptakan defisit struktural sekitar 850 kt. Pada 2025, total impor tembaga AS mendekati 1,6 Mt — di mana 850 kt menutup kesenjangan pasokan, sementara 750 kt sisanya berfungsi sebagai inventaris pengisian atau spekulatif. Patut dicatat, diperkirakan 470 kt berada di gudang terdaftar COMEX (sekitar 515.000 ton pendek), dengan tambahan 280 kt diyakini disimpan sebagai stok tidak terlapor — total tingkat inventaris mendekati 800 kt.

Yang lebih penting, sejumlah kontrak jangka panjang yang ditandatangani pada 2024–2025 untuk pengiriman 2026 — sebagian besar merek terdaftar COMEX — dihargai jauh lebih tinggi daripada valuasi spot saat ini. Dengan menyempitnya jendela arbitrase, sebagian kargo ini kini dialihkan ke Asia. SMM mengetahui bahwa dalam beberapa pekan terakhir, waran dan dokumen pengiriman bermerek COMEX telah dijual dengan harga diskon di pasar spot Tiongkok dan Asia Tenggara. Beberapa pedagang juga menyatakan minat untuk menegosiasikan ulang kontrak jangka panjang semesteran atau triwulanan untuk 2026, menandakan kemungkinan pergeseran dalam alur perdagangan.
Akibatnya, impor bersih tembaga olahan ke Tiongkok dan Asia Tenggara mungkin tidak seketat yang diperkirakan sebelumnya pada kuartal pertama 2026. Meskipun persaingan untuk bahan asal Afrika dan Indonesia tetap penting secara strategis, potensi kembalinya pasokan tembaga terkait AS dapat sebagian mengimbangi risiko pasokan yang dirasakan. Oleh karena itu, pasar tembaga regional dapat memasuki fase yang lebih seimbang — atau bahkan sedikit kelebihan pasokan — pada awal tahun, menandai pergeseran halus dari ketatnya pasokan yang mendominasi akhir 2025.



