Ledakan di Pabrik Baja Chhattisgarh: Potensi Koreksi Harga Bijih Besi Regional Jangka Pendek dan Lonjakan Harga Baja
Pada 22 Januari 2026, sebuah insiden industri serius terjadi di Chhattisgarh, pusat baja penting di India Tengah. Ledakan besar di fasilitas Real Ispat & Power Ltd (RIPL) di distrik Baloda Bazar-Bhatapara telah mengakibatkan setidaknya enam korban jiwa tewas dikonfirmasi dan beberapa luka parah. Peristiwa ini bukan hanya tragedi tersendiri, tetapi terjadi pada momen sensitif bagi industri baja India. Insiden ini terjadi tidak lama setelah penambang terbesar India, NMDC, memotong harga bijih besi untuk menghadapi permintaan domestik yang lemah, meskipun negara itu mencatat impor bijih besi tertinggi dalam tujuh tahun pada 2025.

Fasilitas tersebut adalah pabrik baja terintegrasi lokal terkemuka yang menampilkan kiln putar DRI berbasis batubara, bengkel peleburan baja, dan jalur pengerolan. Laporan awal dan kesaksian pekerja menunjukkan ledakan terjadi di Dust Settling Chamber (DSC) yang terhubung ke kiln putar berbasis batubara.
Profil Pabrik: Real Ispat & Power Ltd (RIPL)
- Lokasi: Desa Bakulahi, Distrik Baloda Bazar, Chhattisgarh (berdekatan dengan klaster industri Raipur).
- Produk Inti: Besi Langsung Tereduksi (DRI) Berbasis Batubara, Billet Baja Lembut, Produk Panjang (Tulangan Baja TMT, Batang Kawat), dan Tenaga Listrik Mandiri.
- Perkiraan Kapasitas:
- DRI: Diperkirakan 600.000 ton per tahun (tpa).
- Peleburan & Pengerolan Baja: Dilengkapi dengan Tungku Induksi dan Pabrik Pengerolan.
- Billet Lembut: ~750.000 tpa.
- Baja Konstruksi/TMT: ~870.000 tpa.
- Batang Kawat/Pengolahan Industri: ~300.000 tpa.
Analisis Dampak Inti
1. Penindakan Regulasi dan Penurunan Operasional Dengan enam korban jiwa, ini diklasifikasikan sebagai insiden keselamatan industri besar. Berdasarkan preseden historis (seperti insiden Bhilai 2014 dan 2018), ada kemungkinan tinggi pemerintah negara bagian akan meluncurkan inspeksi keselamatan menyeluruh segera di seluruh pabrik DRI swasta dan unit Tungku Induksi. Banyak produsen baja sekunder mungkin dipaksa untuk menghentikan operasi sementara atau mengurangi beban untuk pemeriksaan kepatuhan, berpotensi mendorong penurunan 5–10% dalam utilisasi kapasitas regional selama 1–2 minggu ke depan.
2. Kelangkaan Pasokan DRI dan Lonjakan Harga Chhattisgarh adalah pusat produksi DRI (Besi Spons) India. Penangguhan operasi RIPL diperkirakan akan menghilangkan pasokan spot DRI sekitar 1.600 ton/hari dari pasar Raipur. Meski secara global dapat diabaikan, ini menciptakan kekurangan bahan baku segera bagi pabrik baja sekunder (klaster Raipur-Durg). Harga, yang telah pulih ke ~₹26.400/ton (~$293) pada pertengahan Januari karena restocking, kemungkinan akan mengalami lonjakan tajam jangka pendek akibat gangguan ini dan potensi gangguan terkait inspeksi di pabrik tetangga.
3. Bijih Besi: Tekanan pada Premi Lump Pabrik DRI berbasis batubara seperti RIPL adalah konsumen utama Bijih Besi Lump dan Pelet. Jika terjadi penghentian operasi regional atau gelar inspeksi, permintaan untuk Lump bermutu tinggi akan membeku secara instan. Akibatnya, Premi Lump domestik menghadapi tekanan penurunan dalam jangka pendek karena pembeli utama tetap non-aktif. Ini menyoroti hambatan sisi pasokan: sementara permintaan bahan baku India kuat, infrastruktur pengolahannya (khususnya DRI swasta) kesulitan mempertahankan tingkat pertumbuhan tinggi dengan aman. Perbedaan ini dapat menyebabkan skenario stagnasi penjualan bijih besi yang kontras dengan kenaikan harga baja jadi.
4. Penundaan Strategis dan Konteks Impor Perlu dicatat, impor bijih besi India mencapai tertinggi tujuh tahun sebesar 12,2 juta ton pada 2025, dengan JSW Steel menyumbang 80%. Pasar menunjukkan pembelahan mencolok: pabrik pantai (seperti JSW) diuntungkan dari penurunan harga global, sementara pabrik pedalaman (seperti RIPL) terikat logistik ke NMDC. RIPL sedang membangun pabrik pelet 0,8 juta ton per tahun (dijadwalkan komisioning Q1 2026) untuk mengurangi risiko bahan baku ini. Ledakan ini pasti akan menunda proyek ini, membuat RIPL terbuka terhadap volatilitas harga bahan baku dan bergantung pada pelet eksternal lebih lama dari perkiraan.



