Pada 24 November, Perdana Menteri Tiongkok Li Qiang menyampaikan pidato di KTT G20 ke-20, menekankan penguatan kerja sama energi hijau untuk memajukan transisi yang berkeadilan. Ia mencatat bahwa Tiongkok telah membangun sistem energi terbarukan terbesar di dunia, dan dalam lima tahun terakhir, produk tenaga angin dan fotovoltaik yang dipasoknya ke dunia telah membantu negara lain mengurangi emisi karbon sekitar 4,1 miliar ton. Tiongkok siap terus mendukung negara lain dalam transisi energi mereka.
Kerja Sama Energi Hijau Muncul sebagai Topik Utama G20; Energi Baru Menawarkan Manfaat Inklusif dan Berkeadilan
Dalam pidatonya, Li Qiang menyoroti bahwa sumber energi baru seperti tenaga surya dan angin secara inheren memiliki karakteristik inklusif dan berkeadilan. Mendorong transformasi hijau sistem energi tidak hanya akan memberikan momentum kuat bagi pembangunan manusia tetapi juga lebih baik melindungi hak pembangunan yang setara dari semua bangsa. G20 harus memajukan kerja sama global dalam industri hijau, menjaga rantai industri dan pasokan yang stabil dan lancar, serta memfasilitasi aliran bebas dan penerapan teknologi serta produk terkait. Inisiatif ini berfokus pada keadilan dan kerja sama dalam transisi energi global, selaras dengan tema KTT G20 ini: "Persatuan, Kesetaraan, Keberlanjutan."
Pencapaian Luar Biasa Tiongkok dalam Energi Terbarukan dan Kerja Sama Internasional yang Berhasil
Sebagai pelaku aktif transisi energi global, Tiongkok telah membangun sistem energi terbarukan terbesar di dunia dan mencapai hasil signifikan dalam kerja sama internasional di bidang energi hijau. Hingga saat ini, Tiongkok telah terlibat dalam kolaborasi energi hijau dengan lebih dari 100 negara dan wilayah. Dalam lima tahun terakhir, produk tenaga angin dan fotovoltaik yang dipasoknya ke seluruh dunia secara kumulatif telah membantu negara lain mengurangi emisi karbon sekitar 4,1 miliar ton, memberikan kontribusi penting bagi mitigasi perubahan iklim global dan kemajuan struktur energi hijau.
Tiongkok Bersedia Terus Memberdayakan Transisi Energi Global dan Menangani Tantangan Melalui Koordinasi Multi-Sektor
Li Qiang menyatakan bahwa Tiongkok bersedia terus memanfaatkan kemampuannya untuk mendukung negara lain dalam transisi energi mereka. Selain kerja sama energi hijau, pidato tersebut juga mengajukan beberapa inisiatif tentang perlindungan ekologi dan lingkungan, ketahanan pangan, penerapan luas dan tata kelola kecerdasan buatan, kerja sama tentang mineral kritikal, serta pemberdayaan pembangunan di Global Selatan. Ini menyerukan agar G20 menjunjung tinggi semangat kemitraan, bersatu membangun kekuatan, dan mengandalkan kolaborasi untuk menangani berbagai tantangan global seperti perubahan iklim, energi, dan ketahanan pangan, bersama-sama mempromosikan kemajuan dan pembangunan yang makmur dari peradaban manusia.



